Archive for April, 2006

Kasus Tibo - Surat seorang biarawan

Wednesday, April 12th, 2006

Baca pengakuan Tibo di
http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=724


Kepada Yth.

Presiden Republik Indonesia
Di
Jakarta

Bapak Presiden Yang terhormat !

Sebagai seorang anak bangsa saya mengikuti dengan cermat
penanganan kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran HAM di tanah air
mulai dari kasus Tanjung Priok, Trisakti, Kerusuhan Jakarta, kasus
Timor-Timur,Aceh, Papua, Ambon hingga terakhir kasus Poso. Saya
mengikutinya semata-mata karena rasa cinta pada kemanusiaan (sebuah
nilai luhur yang terwariskan dari sejarah kaum yang pernah ditindas
selama hampir 350 tahun oleh Kolonialisme-imperialisma asing).

Di antara kasus-kasus itu kasus Poso adalah sebuah konflik
sosial dengan ekskalasi besar dalam rentang waktu amat panjang.
Konflik ini telah melibatkan banyak pihak dan menelan banyak korban.
(Tentang hal ini Bapak Presiden tentu sangat tahu.) Namun sayangnya
penanganan terhadap kasus ini pada akhirnya hanya bisa menetapkan tiga
orang anak bangsa yang tidak berpendidikan (buta huruf) sebagai tumbal
yang malang. Ada pertanyaan yang mengusik saya : “Mengapa Tibo? ”
Mengapa yang kecil selalu dikorbankan ?

Saya melihat Kasus Tibo sebagai sebuah representasi paling pedih
dari tumpukan tumbal yang tidak punya nama di hadapan kekuasaan.
Sebuah contoh yang menyadarkan bahwa dalam kehidupan berbangsa setiap
orang yang tidak punya kuasa bisa dikorbankan ; hari ini Tibo, besok
yang lain - yakni setiap orang yang bisa diadu untuk berkelahi dan
saling membunuh lalu kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Sementara mereka yang punya duit (untuk membayar), punya kuasa (untuk
memerintah) dan punya senjata(untuk membunuh atas nama hukum) dapat
tetap berpesta sebagai penjaga hukum.

Mempertimbangkan pengalaman penanganan kasus Tibo dengan hati yang
jernih, dalam sebuah rentangan sejarah kekerasan yang panjang di
Negara tercinta ini tidak ada yang bisa kita katakan selain mengakui
bahwa bangsa ini sedang menjerumuskan dirinya menjadi Bangsa yang
haus darah karena dalam tiap paruhan sejarahnya selalu menghisap darah
rakyatnya sendiri. Namun saya percaya bahwa masih amat banyak pula
orang-orang yang berkehendak baik. Karena itu dengan penuh harapan ,
sambil menaruh hati pada jeritan para korban entah di Aceh, Poso ,
Papua atau di tempat-tempat lain di Tanah Air Indonesia tercinta ,
dengan ini sebagai seorang anak bangsa, Saya menyerahkan diri dan
menyatakan kesediaan untuk dieksekusi menggantikan para tersangka
hukuman mati kasus Poso. Saya berharap pilihan ini bisa menjadi
monumen peringatan di antara orang-orang yang berkehendak baik di
negri tercinta ini untuk menaruh hormat dan membela kehidupan
manusia.

Roma, 11 April 2006

Hormat Saya
Rm. Leo Mali
Pontificio Coll. San Pietro Apostolo
Viale delle Mura Aurelie no. 4 , 00152
Roma – Italia

Think Globally, Act Locally..Concept always goes first

Tuesday, April 11th, 2006

A lot of people have opinion :

Better do something, than nothing

Good ! But there’s also the old saying that says :

If you have no destination, wherever the winds blow won’t matter

Simply, doing something without clear purpose is the same thing as doing nothing..

Always have the clear goals inside your head..Then have a major step and milestones of how the goals could be reached..Then do it..

Always start with the concept first..then implementation

Try to read Fergus O’Connell’s “Simply Brilliant:The Competitive Advantage of Common Sense” (Indonesian title is “Simplify your working life” - BIP Gramedia) , or Steven Covey’s “First Thing First”..

Best luck on you

We should dream some more…

Tuesday, April 11th, 2006

My most favourite posting..Taken from http://gbt.blogspot.com/2005_12_01_gbt_archive.html
————————————————————–
I was reading Thomas Friedman’s “The World is Flat,” and strucked the following paragraph:

Analysts have always tended to measure a society by classical economic and social statistics: its deficit-to-GDP ratio, or its unemployment rate, or the rate of literacy among its adult women. Such statistics are important and revealing. But there is another statistic, much harder to measure, that I think is even more important and revealing: Does your socienty have more memories than dreams or more dreams than memories?

By dreams I mean the positive, life-affirming variety. The business organization consultant Michael Hammer once remarked, “One thing that tells me a company is in trouble is when they tell me how good they were in the past. Same with countries. You don’t want to forget your identity. I am glad you were great in the fourteenth century, but that was then and this is now. When memories exceed dreams, the end is near. The hallmark of a truly successful organization is the willingness to abandon what made it successful and start fresh.”

So, let’s keep on dreaming … and more importanly, make them come true.

Sony Corp dan Kebangkitan Jepang setelah PD II

Tuesday, April 11th, 2006

Gw tertarik dgn posting ini

dan inilah jawaban gw :
NB: Gw lupa teori Adam Smith tu kaya apa. Yg jelas bukan masalah perputaran roda ekonomi kan ??


Saya rasa Adam Smith tidak memperhitungkan dampak inovasi dan teknologi thd ekonomi.

Setelah Perang Dunia II, ekonomi Jepang hancur lebur. Bahkan untuk makan pun mereka mengimpor gandum dan roti dari USA. Lantas apa yang dilakukan para petinggi Jepang waktu itu ? Untuk membuat industri mesin (industri perkapalan, pesawat terbang, dan senjata –industri-industri favorit saat itu), mereka tak sanggup. Semua industri yang dimiliki Jepang musnah saat Nagasaki dan Hiroshima dibom –Nagasaki dan Hiroshima adalah sentra industri Jepang saat itu..Dari kapal perang, pesawat terbang, amunisi, dan bahan pangan rakyat Jepang ada di situ..Krn itulah kedua tempat itu menjadi target utama sekutu.

Mnrt teori Adam Smith, Jepang harusnya musnah dr muka bumi.. Krn ekonomi mereka bukan lagi timpang, tapi tidak bergerak sama sekali. Tp kenyataannya kan tidak demikian ?

Para petinggi Jepang, dibantu dgn kalangan akademisi Jepang (banyak akademisi Jepang yang lulusan eropa, akibat dr restorasi Meiji) melihat suatu titik terang kecil di ujung kegelapan ekonomi..Bagaimana jika Jepang mengembangkan industri elektronik ??

Industri elektronik, di tahun 1940-an, bukan termasuk industri yang menghasilkan banyak uang. Mobil, industri baja, minyak, dan industri berat-lah yang menjadi favorit saat itu. Tp Kaisar (sebelum tahun 1970, semua kekuasaan dipegang oleh Kaisar/Tenno) setuju untuk mempertaruhkan nasib Jepang di industri baru — industri elektronik.

Tahun 1950, dibentuklah BUMN Jepang yang menangani industri elektronik. Mereka membayar royalti ke RCA Amerika untuk teknologi pembuatan transistor. Dua tahun kemudian, mereka mengembangkan radio transistor yang kemudian meledak di pasar dunia (karena dgn transistor, ukuran radio menjadi lebih kecil).

Beberapa tahun kemudian, pihak pemerintah memutuskan untuk mengganti nama BUMN tersebut. Dari yang ke-jepang-jepangan menjadi western-like, supaya lebih diingat orang..Maka lahirlah “Sony”..

50-tahun kemudian, pd saat ini, Sony adalah raksasa elektronik dunia..Mulai dr HP (Sony-Ericson), games (sony playstation), consumer electronics (diskman, walkman, radio compo, VCD/DVD), sampai perusahaan rekaman (sony - BMG)..

Nah, itulah nasib negara yang katanya tidak bermasa depan (mnrt Adam Smith)..

Sbnarnya kita pun bisa spt Jepang. Asal pemerintahnya jangan sibuk mengisi kantong pribadi. Asal wakil rakyatnya mau berjuang utk kepentingan nasional (bukan konstituennya atau golongannya), atau malah berjuang agar dapat gaji lebih tinggi, dapet proyek, bisa jalan-jalan gratis ke LN…

Hmm…kok kayanya susah ya ?

The Law of Customer Behaviour for Indifferentiable Products/Services

Tuesday, April 11th, 2006

Simple law that’s predict the customer behaviour for indifferentiable products/services :

  • If two or more products/services indifferentiable in functions/benefits to customers (excluding price differentiation), then price is the key factor that customer choose.
    Customer always choose the cheapest.
  • If two or more products/services is indifferentiable in functions/benefits to customers (including price differentiation), then customer experience (emotional/logical experience) is the key factor that customer choose.
    The experience may come from the customer’s experience him/her-self or from other person who already tried the products/services

Thinking to inovate ??

Kombinasikan Penelitian dgn Nilai Komesil

Tuesday, April 11th, 2006

Pendapat pribadi saya, penelitian berhenti karena minim dana. Dana minim karena nilai komersil dari suatu penelitian tidak terekspose. Tidak tereksposenya nilai penelitian, karena susah sekali mencari hasil penelitian di Indonesia. Lebih mudah cari info di google.com atau amazon.com..

Efek buruk dari tidak tereksposenya hasil penelitian kita adalah industri kita tidak dihargai dunia..Rasa-rasanya orang beli produk Indonesia krn harganya murah (kl China bisa lebih murah lagi, mampuslah industri Indonesia)..

Mungkin untuk menambah dana riset, selain memikirkan topik riset, juga harus dipikirkan siapa pengguna hasil riset tersebut. Kemudian riset dapat diajukan ke industri / pengguna yang berminat..

Atau bila hasil penelitiannya dah jadi, bagi yang mo punya kopiannya mohon bayar lebih (misal Rp 100 000/hasil penelitian)..Jangan bayar fotokopiannya tok..

Atau bisa juga dijadikan paten / copyright, kemudian ditawarkan ke masyarakat umum..

Dengan demikian, org berminat utk meneliti..buntutnya para siswa jadi berminat menekuni bidang ilmu..buntutnya lagi pendidikan kita bisa maju..

Gimana caranya nawarin riset ke industri : qta bikin milis lagi donk –Masa cuma beasiswa yg bisa dimilis-in.. — Kumpulin yg punya dana, para periset, dan pemilik usaha yg ada. Saya yakin, banyak org yang tertarik dgn peluang usaha baru. Apalagi saat laju inflasi lebih tinggi dr suku bunga deposito…

Anyway, OOT ni, saya lagi tertarik dgn riset biota laut.. Ada nggak algae / ikan yg bisa diternakkan/cultivate, tapi bisa menghasilkan minyak nabati/hewani utk biodiesel ??

Drpd bikin kebun kelapa sawit baru, dan mengusir gajah (kacian gajahnya)..lebih baik kita menanam di laut..Industrinya bisa diaplikasikan di wilayah timur Indonesia, dimana lautnya luas dan dalam, sedangkan daratannya sempit dan tandus, dan masyarakatnya terbelakang..Hitung-hitung majuin wilayah timur gitu..

Kl ada yg minat, bisa japri saya di kunilkuda@gmail.com

Tengkyu

Perbanyak SMK, jangan SMA

Tuesday, April 11th, 2006

Ini pendapat saya, dr review penolakan buruh thd revisi UU no 13/2003..

Knp buruh menolak revisi ? Knp pemilik modal ingin revisi ?

Buruh di Indonesia berpendidikan sangat rendah (bandingkan dengan buruh di eropa). Rata-rata tidak lulus SD, sedikit yang lulus SMP, sangat sedikit sekali yang lulusan SMA/SMK (kl lulusan SMA/SMK jarang yang menjadi buruh). Para buruh ini, karena tidak mempunyai skill dan tidak berpendidikan, hanya mengandalkan pada kekuatan mereka saja.

Masalahnya, industri otomatisasi saat ini telah jauh berkembang pesat. Tenaga manusia hampir tidak dibutuhkan, mesin menjadi lebih efektif dan harga mesin-mesin otomatis turun drastis dalam satu dekade belakangan ini.

Tuntutan pemegang modal jelas : kalo kemampuan Anda tidak bisa melebihi kemampuan mesin, biaya operasi Anda (baca : gaji) harus lebih rendah dari biaya operasi mesin. Kl tidak, lebih baik beli mesin drpd menggaji buruh. Kl peraturan pemerintah tidak mengizinkan mesin menggantikan buruh (misal : memperketat aturan PHK/pesangon), pemilik modal akan lari ke Vietnam / Kamboja / Laos dan lebih banyak lagi jumlah pengangguran di Indonesia. (Inilah point dasar yang memaksa pemerintah me-revisi UU 13/2003).

Bagaimana cara kita menaikkan kesejahteraan buruh dan sebagian besar rakyat Indonesia ?

Pertama-tama, tenaga mesin lebih kuat dari tenaga manusia, tapi otak manusia jelas melebihi kemampuan mesin berpikir.

Karena itulah, buruh kita HARUS memiliki SKILL (jangan extra JOSS alias tenaga doang). Caranya : dengan menyediakan pendidikan keahlian yang lebih terjangkau..

Kl dipikir-pikir, biaya operasi SMK tu mestinya lebih murah dr SMA. SMK elektro, misalnya, nggak perlu biaya untuk lab biologi dan kimia kan ? Lagipula, dr sisi tujuan, lulus SMK langsung siap kerja. Lulus SMA si biasanya masi blo’on (fakta ni). Disuruh gini-gitu pasti ga bisa. Nilai jual SMK juga lebih tinggi dari SMA, krn mereka punya pengetahuan ttg prinsip cara kerja mesin, prinsip penggunaan, dan praktek. Kl mesin rusak atau nggak beres, lulusan SMK cepat tanggap dan bisa memperbaiki (fakta juga ni)..

Kl pemerintah sampai bikin pelajaran tambahan supaya lulusan SMA bisa langsung kerja, itu artinya salah pakem kl org jawa bilang. Apalagi kl menambah jumlah SMA drpd jumlah SMK. Udah biaya operasi SMA lebih mahal, lulusannya jadi pengangguran lagi (kl ga bs dapat pendidikan tinggi)…

Kl buruh kita punya skill, pasti pemilik modal tidak akan menggaji sebatas UMR. Pasti nasib buruh ga akan kaya budak belian. Pasti banyak org yg bisa tidur pulas dgn perut kenyang di negeri ini. Pasti negara ini maju..

Andai … andai..